Lompat ke konten
Beranda » Berita » Kultum Rutin: Menemukan Makna Diri di Bulan Ramadhan

Kultum Rutin: Menemukan Makna Diri di Bulan Ramadhan


Sleman – SMK Muhammadiyah 1 Sleman kembali menggelar kegiatan kultum rutin yang diikuti oleh seluruh guru, dan karyawan. Pada kesempatan kali ini, kultum disampaikan oleh Ust. Nur Fandi, S.Pd dengan tema “Menemukan Makna Diri di Bulan Ramadhan.”

Dalam tausiyahnya, Ust. Nur Fandi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum refleksi diri dan peningkatan kualitas keimanan. Ia menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan suci penuh kebaikan yang mengajarkan arti berbagi dan mengasihi sesama.

“Berbagi kebahagiaan kepada saudara, keluarga, tetangga, dan kaum muslimin dapat dilakukan dengan apa yang kita miliki. Tidak hanya berupa materi, tetapi juga ilmu yang bermanfaat, selama dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan syariat,” ungkap beliau.

Ia kemudian membacakan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hadid ayat 18 tentang keutamaan sedekah yang akan dilipatgandakan pahalanya. Selain itu, beliau juga mengutip hadits Rasulullah SAW riwayat Muslim ibn al-Hajjaj (HR. Muslim no. 2588) yang menegaskan bahwa harta tidak akan berkurang karena sedekah, bahkan Allah akan menambah kemuliaan bagi hamba yang pemaaf.

Menurutnya, meskipun syarat diterimanya amal terlihat sederhana—ikhlas dan sesuai syariat—namun dalam praktiknya tidaklah mudah. Seorang hamba harus mampu melawan hawa nafsu, rasa malas, dan berbagai godaan yang menjauhkan dari kebaikan.

“Ketika lelah dan malas mendominasi hati, di situlah sejatinya kita sedang berjuang mendidik jiwa agar tetap taat kepada Allah,” jelasnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa setan akan selalu membisikkan manusia untuk menjauhi perintah Allah, mulai dari perbuatan kufur hingga hal-hal sia-sia yang mengalihkan dari amalan utama.

Memaksakan Diri Berbuat Kebaikan

Dalam bagian selanjutnya, Ust. Nur Fandi menekankan pentingnya memaksakan diri untuk berbuat baik. Ia menyampaikan bahwa konsistensi dalam kebaikan sering kali terhambat oleh rendahnya motivasi intrinsik serta lemahnya iman.

Setidaknya ada dua faktor yang membuat seseorang malas atau menunda kebaikan. Pertama, faktor internal berupa melemahnya iman akibat seringnya melakukan dosa hingga hati menjadi keras dan lebih mencintai dunia. Contohnya adalah terlalu fokus pada pekerjaan (workaholic), rapat, mengejar target, atau lembur hingga mengabaikan shalat tepat waktu.

Fenomena lain yang disorot adalah penggunaan gadget secara berlebihan—scrolling media sosial tanpa tujuan, binge watching hingga larut malam—yang berdampak pada kelalaian terhadap kewajiban, termasuk shalat Subuh.

Kedua, kurangnya pemahaman ilmu agama serta pengaruh lingkungan sosial yang kurang baik. Dalam hal ini, beliau mengutip hadits Rasulullah SAW riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

Pesan tersebut menegaskan bahwa istiqamah bukan perkara mudah, namun bukan pula mustahil selama seorang hamba terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Ust. Nur Fandi juga mengutip nasihat dari Ali ibn Abi Talib yang mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal abadi, melainkan tempat ujian menuju akhirat.

Kegiatan kultum rutin ini menjadi bagian dari pembinaan karakter spiritual di lingkungan sekolah. Diharapkan, seluruh keluarga besar SMK Muhammadiyah 1 Sleman dapat menjadikan Ramadhan sebagai momentum bermuhasabah, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah.

“Semoga Ramadhan yang sedang kita jalani tidak berlalu begitu saja, tetapi menjadi momentum istimewa untuk semakin dekat kepada Allah SWT,” tutup beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *